Bogoran.com – Wali Kota Bogor Bima Arya menyebut Rumah Sakit Marzuki Mahdi (RSMM) siap menampung untuk memberikan konseling kepada para Caleg yang mengalami depresi atau stres setelah gagal menang dalam Pileg 2024.
Bima Arya mengatakan, kondisi depresi atau stres selalu ada. Tetapi bukan hanya caleg saja, melainkan keluarga atau pendukungnya sangat mungkin mengalami.
Namun jika melihat pemilu 2019 lalu, kata Bima, tidak terlalu banyak caleg di Kota Bogor yang mengalami depresi maupun stres.
Tetapi dia juga tidak bisa memastikan berapa banyak caleg-caleg yang mengalami hal tersebut.
Karena, banyak yang tidak melapor dan mungkin kondisi yang dialami dibawa si calegnya sendiri.
“Saya kira (Pemilu 2019) gak banyak juga ya, mungkin banyak (caleg) yang gak melapor. Stres tapi di bawa sendiri aja, gak banyak juga gitu,” kata Bima Arya
Lanjut Bima, di Kota Bogor sendiri sudah ada rumah sakit untuk menangani hal tersebut, yaitu Rumah Sakit Marzuki Mahdi (RSMM) yang berlokasi di Jalan Semeru, Kecamatan Bogor Barat.
“Kita pastikan Rumah Sakit Marzuki Mahdi itu siap semuanya menampung dan memberikan konseling untuk mendampingi,” ujarnya.
Tetapi, kata Bima, yang paling penting menurutnya bagaimana menjaga kebersamaan.
“Jadi bukan saja nanti pasca terjadinya, tapi dari sekarang kita harus menjaga kebersamaan dan membangun komunikasi,” sambung Bima.
Politikus PAN itu menyampaikan, kalau semakin meruncing maka situasinya semakin tajam, dan itu yang perlu dihindari. Sehingga, kata dia, komunikasi harus dibangun secara terus menerus.
“Ya makanya sesama kandidat harus saling berkomunikasi supaya meredam tensi tadi,” imbuhnya.
Masih kata Bima, yang ada dibenaknya saat ini bukan persoalan caleg yang alami depresi, tetapi soal mengantisipasi supaya tidak terjadi lagi petugas KPPS yang kelelahan seperti yang terjadi pada pemilu 2019.
Mengantisipasi stres boleh, kita tinggal koordinasi dengan RS Marzuki Mahdi.Tapi yang paling penting itu kita mengantisipasi agar ribuan petugas KPPS di Kota Bogor tidak kelelahan.
“Nanti kita pastikan mereka tidak dibebani tugas berlebihan, dan dipantau kesehatannya,” tutup Bima.***
(Muhammad Irfan Ramadan)






